class="post-fixed">

Rabu, 02 November 2011

Percayalah, Setiap Anak Bisa Menjadi Pemimpin!

Ketua Yayasan Dunamis Mitra Pertiwi Andiral Purnomo mengatakan, ada sebuah komponen bernama 7 habits (tujuh kebiasaan) dalam program The Leader in Me yang diterapkan di Sekolah Dasar Standar Nasional 12 Benhil, Jakarta, menuju sekolah kepemimpinan berbasis karakter pertama di Indonesia. Dunamis menjadi pendamping sekolah tersebut.


7 habits yang dimaksud adalah jadilah proaktif, mulai dengan tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, mengerti baru dimengerti, sinergi, dan mengembangkan diri.

Akan tetapi, kata Andiral, hal utama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset seluruh komponen yang terlibat di sekolah dan orangtua bahwa anak-anak adalah pemimpin.

"Yang diubah believe-nya dulu, anak adalah pemimpin. Itu yang kita tanamkan agar anak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," kata Andiral, Selasa (1/11/2011), di Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) 12 Benhil.

Ia menjelaskan, perlu digunakan pendekatan secara menyeluruh untuk menanamkan believe tersebut. Selain itu, ada enam komponen yang harus diperhatikan untuk membuat karakter kepemimpinan menjadi sebuah budaya.

Komponen pertama untuk menumbuhkan budaya karakter kepemimpinan kepada para siswa di sekolah adalah panutan orang dewasa di lingkungan sekolah mulai dari guru, staf, hingga kepada orangtua di rumah harus menjadi contoh teladan.

Kedua, melalui bantuan visual ( visual environment). Bagaimana sekolah harus menyuguhkan kesan kuat mengenai karakter kepemimpinan melalui pesan bergambar.

"Pesan itu harus kuat agar semua siswa ingat bahwa mereka adalah pemimpin," ujarnya.

Lalu yang ketiga dan keempat, ujarnya, lebih kepada metode pengajarannya, yaitu kurikulum dan instruksi bagaimana secara periodik seminggu sekali siswa mendapatkan pelajaran mengenai leadership.

"Ada mata pelajaran khusus mengenai kepemimpinan, tetapi yang paling penting dalam instruksi adalah bagaimana dalam setiap pelajaran disisipkan mengenai karakter kepemimpinan," ujarnya.

Keempat poin tersebut diperkuat dengan dua poin terakhir, yaitu tradisi dan sistem. Tradisi dapat lebih disesuaikan. Misalnya, ada siswa yang terlambat, maka harus diketahui dulu apa penyebabnya sebelum anak tersebut bertanggung jawab atas kesalahannya.

Contoh lainnya adalah mengubah tradisi informal, misalnya seperti peringatan Hari Kartini. Selama ini, tradisi para siswi selalu menggunakan kebaya di sekolah untuk memperingati Hari Kartini. Hal ini perlu diubah. Para siswi diajak untuk mengenakan pakaian yang mewakili cita-cita mereka.

"Kartini bukan pejuang kebaya, tetapi pejuang emansipasi wanita. Itu tradisi bagus tapi kurang sesuai dengan pesannya. Maka dilakukan modifikasi agar pesannya kuat, misalnya anak wanita diajak menggunakan pakaian sesuai dengan cita-citanya, pakaian pilot, pramugari, atau polisi wanita," ujarnya.

Komponen terakhir adalah sistem yang harus disesuaikan dengan sistem pengajarannya. Hal yang ingin ditanamkan adalah anak sebagai pemimpin, maka setiap peluang dibuat agar para siswa belajar memimpin. Misalnya, saat penerimaan rapor, bukan lagi antara orangtua dan guru, tetapi juga melibatkan anak dan orangtua.

"Itu beberapa contoh, jadi anaknya yang akan langsung tanggungjawab. Karena kita menanamkan believe setiap anak adalah pemimpin. Ini jawaban terhadap konsep pendidikan karakter yang selama ini diterapkan," ujar Andiral.

SUMBER : WWW.KOMPAS.COM

0 komentar:

Poskan Komentar